Perjalanan Bangsa Israel (Jelajah PL 593)

Bilangan 33:5-15

Pada perjalanan bagian pertama, bangsa Israel berangkat dari Mesir menuju ke gunung Sinai. Dari Rameses, mereka berkemah di Sukot. Berangkat dari Sukot, lalu berkemah di Etam, di tepi padang gurun. Dari Etam, mereka kembali ke Pi-Hahirot, lalu berkemah di Migdol. Ini langkah yang cukup aneh, karena seharusnya mereka tidak perlu kembali ke Pi-Hahirot. Perjalanan ini sengaja dilakukan, karena kekerasan hati Firaun. Pada saat itu, Firaun benar-benar ingin mengejar bangsa Israel.

Firaun ini menjadi tokoh yang unik di dalam Alkitab. Dia adalah tokoh pemimpin Mesir yang suka mengeraskan hati. Setelah Firaun berkali-kali mengeraskan hati, maka Tuhan pun akhirnya mengeraskan hati Firaun. Di dalam Roma 9:17 dikatakan, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.”

Sebenarnya, jika Firaun mau mengakui kekuasaan Tuhan dan membiarkan bangsa Israel pergi keluar dari tanah Mesir, itu pun akan membuat nama Tuhan menjadi masyhur. Pada waktu itu, Mesir menjadi negara yang sangat besar dan berpengaruh. Jika Firaun mau bertobat kepada Tuhan, maka nama Tuhan juga akan masyhur. Bangsa lain bisa melihat bahwa bangsa yang besar pun memiliki pemimpin yang mau tunduk kepada Tuhan.

Karena pemimpin Mesir tidak mau bertobat, maka Tuhan mendatangkan tulah-tulah yang hebat, sehingga sampai pada akhirnya orang Israel keluar dari Mesir. Hal ini pun akan memasyhurkan nama Tuhan. Artinya, apapun yang Firaun lakukan, baik mau bertobat maupun tidak bertobat, nama Tuhan akan tetap dimasyhurkan. Di dalam Roma 9:18 dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.”

Orang yang hatinya ditegarkan oleh Tuhan adalah orang yang dari awal memang sudah menegarkan hatinya sendiri. Apapun pilihan Firaun, kehendak Tuhan supaya nama-Nya masyhur dan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, pasti akan terjadi. Karena itu, kita bisa belajar dari kesalahan Firaun. Manusia diberikan kehendak bebas dan bisa melakukan segala sesuatu. Tetapi kehendak bebas itu pun memiliki konsekuensi masing-masing. Di pihak Tuhan, hasilnya akan sesuai kehendak Tuhan. Di pihak manusia, konsekuensinya tergantung dari pilihan manusia itu sendiri.

Karena Firaun mengeraskan hati, sekaligus Tuhan juga mengeraskan hati Firaun, maka Firaun mengejar bangsa Israel yang sudah berjalan keluar dari tanah Mesir. Pada saat itu, bangsa Israel sedang terjebak di tepi laut. Banyak dari antara orang Israel yang tidak percaya kepada Tuhan dan mereka berteriak meminta tolong. Akhirnya, melalui Musa, Tuhan membelah laut Merah (Teberau). Israel adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang pernah lewat dari tengah-tengah laut.

Setelah melewati laut itu, bangsa Israel berjalan ke padang gurun Etam, lalu berkemah di Mara. Dari Mara, mereka pergi ke Elim. Dari Elim mereka berkemah di tepi laut Teberau, lalu berpindah ke padang gurun Sin, selanjutnya berkemah di Dofka. Dari Dofka mereka berkemah di Alus, lalu berkemah di Rafidim, setelah itu mereka baru sampai di padang gurun Sinai.

Views: 31

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top