Lemah Lembut (Jelajah PL 508)

Bilangan 12:2-3

Miryam dan Harun mulai mempertanyakan otoritas Musa. Mereka berkata, “Sungguhkan Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Seolah-olah mereka sedang berkata bahwa Musa itu sombong, karena mau memimpin seorang diri. Padahal di ayat 3 diterangkan dengan jelas bahwa Musa bukan orang sombong. Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, bahkan lebih dari setiap manusia yang ada di muka bumi ini.

Tuhan memberikan posisi kepemimpinan itu kepada Musa. Di dalam kitab Keluaran dijelaskan bahwa sebenarnya Musa telah beberapa kali menolak posisi sebagai pemimpin Israel itu. Perkataan Miryam dan Harun itu justru memperlihatkan kesombongan mereka sendiri. Mereka yang sebenarnya ingin mengambil alih kepemimpinan itu. Memang Tuhan pernah berfirman melalui Miryam dan Harun (Keluaran 15:21). Tetapi, dalam hal kepemimpinan, Musa yang telah ditunjuk oleh Tuhan.

Pada saat ini, kepemimpinan rohani yang mirip dengan kepemimpinan Israel pada waktu itu adalah kepemimpinan di jemaat lokal. Hari ini Tuhan bekerja melalui jemaat lokal. Sebagaimana Israel harus memiliki pemimpin, maka jemaat juga harus memiliki pemimpin. Pemimpin jemaat itu adalah Gembala Jemaat. Di dalam Perjanjian Baru ada tiga istilah yang menggambarkan satu jabatan, yaitu: Gembala (Pastor), Penatua (Elder) dan Penilik (Bishop). Alkitab menegaskan bahwa ketiga istilah ini mengacu pada orang yang sama.

Di dalam Kisah Para Rasul 20:17-38, Paulus berbicara dengan para penatua jemaat di Efesus. Di ayat 28, dijelaskan bahwa mereka ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik. Artinya, penatua sama dengan penilik. Tugas mereka adalah untuk menggembalakan jemaat Allah. Di dalam Titus 1:5, Titus diberi perintah untuk menetapkan penatua-penatua di setiap kota. Di ayat 7 dikatakan bahwa mereka memiliki tugas sebagai pengatur rumah Allah dan disebut juga sebagai penilik jemaat. Alkitab mengajarkan bahwa orang percaya harus menghargai dan taat kepada para pemimpin mereka.

Miryam mempertanyakan kepemimpinan Musa, bukan karena Musa mengajak mereka menyimpang dari Tuhan atau berbuat hal yang sesat, tetapi karena alasan pribadi dan motivasi bahwa mereka ingin ikut memimpin. Tuhan mendengar semua perkataan Miryam dan Harun. Kita juga perlu hati-hati pada saat berbicara, karena Tuhan mengetahui semuanya itu. Tuhan juga tahu sikap hati dan motivasi kita dalam melakukan sesuatu dan berkata-kata.

Ada pertanyaan bahwa, jika Musa yang menulis kitab ini, kenapa Musa menyebut dirinya sebagai orang yang lemah lembut dan rendah hati? Jika demikian, berarti Musa sedang menyombongkan kerendahan hatinya. Bisa saja keterangan ini bukan Musa yang menulis, tetapi Yosua. Kitab Kejadian sampai Ulangan memang ditulis oleh Musa, tetapi diselesaikan oleh Yosua. Karena itu, di kitab Ulangan bagian akhir, ada catatan mengenai kematian Musa.

Dari awalnya, Musa tidak lemah lembut dan rendah hati. Ketika masih berada di Mesir, Musa masih cukup sombong. Diperlukan sekitar empat puluh tahun untuk belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati. Kita juga bisa dibentuk sedemikian rupa, melalui waktu-waktu kita dalam hidup ini.

Views: 22

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top