Bilangan 10:1-10
Sebelum bangsa Israel benar-benar berangkat, masih ada satu hal lagi yang harus dilakukan oleh mereka, yaitu membuat dua buah nafiri dari perak. Tuhan perintahkan ini, karena ada alasan-alasan praktis yang sangat penting. Nafiri ini akan menjadi penanda mereka akan berangkat. Dengan ada sekitar enam ratus ribu orang laki-laki dewasa yang sanggup berperang, maka semua orang Israel diperkirakan dua sampai tiga juta orang. Dengan orang sebanyak itu, diperlukan cara mengorganisir dan mengatur yang baik dan cakap.
Mengatur orang sebanyak itu perlu aturan jelas yang ditegakkan dengan disiplin. Sama seperti hari ini, ketika di sekolah diadakan latihan baris-berbaris, maka diperlukan latihan yang cukup ketat, disiplin dan harus dilakukan secara berulang-ulang. Semua itu dilakukan, supaya puluhan orang itu bisa berjalan dengan rapi dan tegap. Dari ketetapan-ketetapan yang Tuhan berikan, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan yang disembah oleh orang Israel, sangat memperhatikan keteraturan.
Di dalam 1 Korintus 14:40 dikatakan, “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang serampangan. Selain dari peraturan yang diberikan kepada bangsa Israel, kita juga bisa mengenal Tuhan dari alam semesta ini. Semua yang ada di alam semesta ini, berjalan dengan sangat teratur. Planet-planet melakukan rotasi dengan orbit yang jelas. Siklus dalam dunia ini juga sangat teratur dan tidak berantakan.
Nafiri itu akan dibuat untuk membantu pengaturan perjalanan bangsa Israel. Nafiri di Perjanjian Lama ada dua jenis, yaitu nafiri dari perak dan nafiri dari tanduk domba jantan, yang sering disebut dengan shofar. Nafiri dari perak ini akan dipergunakan secara khusus untuk pelayanan-pelayanan tertentu. Jika nafiri itu ditiup dua kali, maka semua umat harus berkumpul di depan Kemah Pertemuan. Jika satu kali saja ditiup, maka para pemimpin dan para kepala pasukan Israel yang harus berkumpul di hadapan Musa.
Jika meniup tanda semboyan (artinya, ditiup dengan cara tertentu), maka para laskar yang berkemah di sebelah timur harus berangkat. Untuk tanda semboyan kedua kalinya, maka laskar-laskar yang berkemah di sebelah selatan harus berangkat. Tanda semboyan ditiup sebagai tanda bahwa laskar harus segera berangkat. Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 14:8 menjadi pertanyaan pembanding, “Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?”
Nafiri-nafiri ini harus ditiup oleh anak-anak imam Harun. Nafiri ini tidak hanya digunakan di padang gurun, tetapi juga pada saat mereka sudah berada di tanah Kanaan. Nafiri digunakan pada saat melawan musuh yang menyesakkan. Hal ini pernah terjadi di zaman Gideon (Hakim-hakim 7). Selain itu, nafiri juga ditiup pada waktu perayaan-perayaan. Jadi, ada banyak sekali fungsi nafiri bagi orang Israel pada waktu itu.
Views: 26