Kerinduan Rohani (Jelajah PL 496)

Bilangan 9:6-8

Pada waktu perayaan Paskah, secara seremonial ternyata ada yang tidak bersih. Mereka terkena sesuatu yang najis. Mungkin ada keluarga mereka yang meninggal, sehingga harus bersentuhan dengan mayat. Orang-orang dalam kondisi ini tidak dapat merayakan Paskah pada hari itu. Di dalam Imamat 7:20 dikatakan, “Tetapi seseorang yang memakan daging dari korban keselamatan yang untuk Tuhan, sedang ia dalam keadaan najis, haruslah nyawa orang itu dilenyapkan dari antara bangsanya.”

Domba Paskah tidak hanya harus disembelih dan darahnya dipoleskan, tetapi semua orang di rumah itu harus memakan domba itu sampai habis, tidak boleh ada sisa. Makan daging korban Paskah itu juga melambangkan bahwa mereka ikut ambil bagian dalam pengorbanan Juruselamat. Karena itu, ketika Tuhan Yesus berada di bumi ini, Dia pernah berkata di dalam Yohanes 6:51, “Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Secara simbolik, makan daging Yesus Kristus artinya seperti sedang memakan domba Paskah, bukan secara literal memakan daging kemanusiaan Yesus Kristus. Simbol yang dipakai untuk daging Yesus Kristus adalah roti. Ketika kita memakan roti Perjamuan Tuhan, maka kita sedang ikut ambil bagian di dalam karya penyelamatan Yesus Kristus.

Di dalam Imamat 22:3 dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Setiap orang di antara kamu turun temurun, yakni dari antara segala keturunanmu yang datang mendekat kepada persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi TUHAN, sedang ia dalam keadaan najis, maka orang itu akan dilenyapkan dari hadapan-Ku; Akulah TUHAN.” Mayat adalah orang yang mati dan kematian itu adalah lambang dari hukuman dosa.

Kasus yang terjadi, ada beberapa orang Israel yang najis tetapi ingin ikut dalam perayaan Paskah ini. Mungkin orang-orang ini bukan satu-satunya kelompok orang yang najis. Bisa saja ada orang yang najis karena hal lain, seperti orang-orang yang mengeluarkan lelehan dan sebagainya. Orang yang najis terkena mayat itu datang kepada Musa untuk meminta pengecualian.

Berdasarkan permohonan itu, maka Musa berkata kepada mereka, “Tunggulah dahulu, aku hendak mendengar apa yang akan diperintahkan TUHAN mengenai kamu.” Kita perlu memiliki sikap dan keputusan yang sama seperti Musa. Kita memang tidak bisa secara langsung mendengar suara Tuhan. Tetapi hari ini kita memiliki Alkitab. Jika ada masalah di dalam kehidupan kita, maka kita bisa mendalami kebenaran melalui Alkitab. Kita bisa belajar dari kesalahan tokoh Alkitab dan juga dari keputusan yang benar dari mereka.

Alkitab seharusnya menjadi otoritas tertinggi, terutama pada saat kita harus mengambil keputusan yang memiliki dampak. Memang sepertinya setiap orang Kristen atau gereja mengakui otoritas Alkitab. Tetapi pada praktiknya, ada banyak orang Kristen yang menempatkan tradisi di atas firman Tuhan.

Views: 25

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top