Bilangan 13:3-28
Akhirnya bangsa Israel mengirim dua belas orang pengintai. Setiap orang mewakili setiap suku Israel. Suku Lewi tidak masuk, karena suku Yusuf dibagi dua, yaitu Efraim dan Manasye. Lewi tidak masuk karena nanti Lewi tidak mendapat warisan tanah. Tanah di Kanaan akan dibagi ke dua belas suku lain, selain suku Lewi. Para pengintai ini dipilih dari dua belas pemimpin suku, tetapi mereka bukan pemimpin tertinggi. Yang dipilih menjadi pengintai ini adalah para pemimpin yang masih muda, sehingga mampu untuk melakukan tugasnya.
Ada dua nama yang cukup menarik, yaitu dari suku Yehuda, Kaleb bin Yefune dan dari suku Efraim, Hosea bin Nun. Dua pemimpin inilah yang nanti akan memberikan kabar baik sebagai hasil dari pengintaiannya. Sedangkan sepuluh pemimpin yang lain memberikan kabar yang tidak baik. Hosea bin Nun adalah Yosua (ayat 16). Hosea artinya keselamatan, sedangkan Yosua artinya Yehova menyelamatkan. Yosua akhirnya menjadi nama yang lebih dikenal dibandingkan dengan Hosea. Nama Yosua sebenarnya juga menjadi nama Yesus (dalam bahasa Yunani).
Akhirnya Musa mengutus keduabelas pengintai itu. Sadar atau tidak sadar, Musa juga membuat bangsa Israel mengalami keragu-raguan. Hal ini muncul dari pertanyaan yang disampaikan oleh Musa di ayat 17-20. Seharusnya Musa tidak memberi pertanyaan yang seperti itu, karena sebenarnya negeri itu sangat baik, sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Tuhan. Dengan pertanyaan ini, seolah-olah negeri itu memang perlu diselidiki kembali. Kita juga perlu berhati-hati, jangan sampai pertanyaan atau pernyataan kita bisa membuat orang lain meragukan firman Tuhan.
Meskipun ide tentang pengintai ini berasal dari orang Israel, tetapi akhirnya bisa membuahkan hal yang positif, asal mereka datang dengan pola pikir yang positif. Tetapi, mereka telah menyalahgunakan kesempatan dari Tuhan. Ketika Tuhan memberi kesempatan untuk memata-matai tanah Kanaan, seharusnya kesempatan itu dipakai untuk memperkuat kebenaran firman Tuhan. Sebenarnya, mereka menemui dan melihat semua itu, sesuai dengan yang telah difirmankan oleh Tuhan sebelumnya.
Di ayat 23 dijelaskan bahwa mereka sampai di lembah Eskol. Di sana mereka memotong satu cabang dengan setandan buah anggurnya. Setandan buah anggur itu bahkan sampai harus dibawa oleh dua orang. Eskol adalah nama yang diberikan oleh orang Israel, karena di sana mereka memotong tandan buah anggur itu. Eskol artinya tandan anggur. Di ayat 27 juga dijelaskan bahwa memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya. Mereka juga membawa hasilnya.
Tetapi di ayat 28, diawali dengan kata “hanya” yang justru merusak semua hasil penglihatan yang baik di ayat sebelumnya. Seolah-olah mereka sedang berkata, “Firman Tuhan itu benar, hanya …” Firman Tuhan itu benar, tidak perlu ditambah dengan kata “hanya” atau “tetapi”. Ini adalah kata sambung yang berbahaya. Seharusnya, hasil pengintaian itu membuat mereka tambah yakin dengan firman Tuhan yang telah disampaikan. Mereka telah membuktikan bahwa firman itu benar adanya. Tetapi orang Israel telah menyalahgunakan kesempatan itu.
Views: 20