Bilangan 12:11-16
Harun ketakutan dan sangat mengerti tentang penyakit kusta, karena penyakit ini harus diperhadapkan kepada Imam Besar. Imam Besar memiliki kewenangan untuk menilai apakah penyakit itu kusta atau tidak. Imam juga juga yang menentukan seseorang masih mengidap penyakit kusta atau sudah tahir. Imam memiliki otoritas atas penyakit kusta. Ketika Harun melihat Miryam seperti itu, Harun sangat kaget.
Harun segera tahu bahwa mereka telah berbuat salah. Segera Harun memohon kepada Musa. Dalam hal ini kita juga melihat kebesaran dan kelemahlembutan hati Musa. Musa sama sekali tidak menyalahkan Miryam dan Harun, atau mengata-ngatai hal yang tidak baik kepada mereka. Musa juga tidak menyalahkan dan menyombongkan diri atas mereka. Musa justru berseru kepada Tuhan, “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Berulang kali kita membaca bahwa Musa memang seperti seorang pembela bagi umat Israel di hadapan Tuhan.
Dalam hal ini, Musa sedang melambangkan Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus. Mendengar permohonan Musa, Tuhan mengabulkannya. Hanya saja, Tuhan perlu memberi pelajaran kepada Miryam. Miryam harus mendapat malu terlebih dulu, seperti seorang ayah yang meludah kepadanya. Miryam dikucilkan selama tujuh hari. Peristiwa ini juga mengajarkan kepada kita bahwa dosa bisa diselesaikan. Kita bisa meminta ampun kepada Tuhan, tetapi akibat dari dosa itu juga tetap ada.
Karena itu, sebaiknya kita mencegah diri supaya tidak berbuat dosa, daripada harus meminta ampun atas dosa kita serta menerima konsekuensi atau hukuman yang seringkali akan membuat kita malu. Selain efek malu, dosa juga bisa mengakibatkan dampak yang lebih parah lagi dan tentu menyakitkan.
Hari ini, baiklah kita belajar untuk menaati pemimpin kita. Seorang Gembala Jemaat memiliki tugas untuk memberi bimbingan secara rohani kepada jemaat yang digembalakannya. Jemaat seharusnya mengikuti pengajaran yang disampaikannya. Terkadang, Gembala Jemaat juga memiliki kewajiban untuk menegur jemaat yang sudah jatuh dalam kesalahan rohani.
Tetapi, dalam hal ini, Gembala Jemaat juga tidak diperbolehkan untuk menyalahgunakan otoritas yang ada padanya. Di dalam 1 Petrus 5:1-2 dikatakan, “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”
Dilanjutkan di ayat 3-4, “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”
Views: 25