Berjanji Untuk Menepati (Jelajah PL 581)

Bilangan 30:1-2

Pasal ini membahas kembali tentang nazar. Nazar ini sudah pernah dibahas di dalam Imamat serta Bilangan 6. Orang yang mengucapkan nazar disebut sebagai seorang nazir. Nazar merupakan satu janji di hadapan Tuhan yang harus ditepati. Memang, semua janji harus ditepati. Nazar lebih spesial dari janji, karena Tuhan memberi perintah kepada para nazir untuk tidak memotong rambutnya, sebelum nazar itu digenapi. Rambut itu sebagai pengingat bagi nazir.

Mengenai rambut panjang bagi laki-laki, di Perjanjian Baru berlaku hal yang berbeda. Di dalam 1 Korintus 11:14 dikatakan, “Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,” Ini menjadi salah satu tujuan bagi seorang nazir, rambutnya dibiarkan panjang sebelum menggenapi nazarnya. Semakin rambut itu panjang, semakin menjadi kehinaan bagi orang tersebut, karena belum segera menyelesaikan nazarnya.

Ada orang yang nazir seumur hidup, seperti Simson. Rambutnya tidak pernah dipotong. Orang seperti ini menjadi orang yang berdedikasi bagi Tuhan di zaman itu, karena membiarkan dirinya menjadi kehinaan seumur hidup. Di dalam Alkitab, kita tidak pernah dipaksa oleh Tuhan untuk menjadi nazir. Tuhan memberikan kesempatan sekaligus aturan. Jika ada orang yang ingin menjadi nazir, maka orang itu harus menuruti firman Tuhan tentang nazar.

Di Bilangan 30 ini, dibahas mengenai nazar bagi perempuan. Perempuan berhak untuk mendapatkan warisan tanah, jika ia tidak memiliki saudara laki-laki. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perempuan bukan jenis kelamin yang dinomorduakan di dalam Alkitab. Banyak hal yang diajarkan dan diatur mengenai perempuan. Ternyata, seorang perempuan juga bisa menjadi nazir, bernazar bagi Tuhan. Baik perempuan maupun laki-laki, yang mengucapkan nazar bagi Tuhan, mereka harus menepatinya.

Kita perlu ingat bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menyatakan janji kepada Tuhan. Tetapi jika kita berjanji, maka janji itu harus diperbuat tepat seperti yang kita ucapkan. Di dalam Pengkhotbah 5:4-5 dikatakan, “Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?” Melanggar janji yang sudah disampaikan kepada Tuhan, akan membawa konsekuensi.

Jika kita berjanji, sebaiknya berjanji terhadap sesuatu yang bisa dipenuhi dan ada dalam kendali kita. Kita tidak bisa bersumpah demi hal-hal yang tidak ada di bawah kendali kita. Kita tidak boleh berjanji demi langit dan bumi, karena kita tidak bisa mengendalikan semua itu. Apalagi berjanji demi Tuhan, kita tidak akan mungkin bisa berada di atas Tuhan. Janji yang selalu ditepati bisa menjadi tanda bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya.

Jika janji itu keluar dari hati kita dan kita memungkinkan untuk menepatinya, maka kita bisa membuat janji. Janji itu bisa disampaikan di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Berjanji atau bernazar bagi Tuhan merupakan hal yang indah.

Views: 22

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top