Bilangan 11:10-15
Orang yang bersungut-sungut dan tidak mau bersyukur akan menyerang pemimpin yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Ketika seseorang bersungut-sungut, ia tidak hanya puas pada diri sendiri, tetapi dia juga akan menyalahkan orang lain. Mereka menumpahkan kekesalannya kepada orang lain. Mereka juga ingin orang lain bersimpati dengan mereka. Mereka bersungut-sungut di depan orang lain, menceritakan bahwa kehidupan mereka buruk dan tidak beruntung. Pemimpin akan menjadi target orang-orang ini, untuk menumpahkan semua kekesalannya.
Pada waktu itu, Musa didatangi oleh orang-orang Israel. Orang-orang itu datang di depan pintu kemah Musa dan menangis. Bisa saja ada yang mulai mengancam atau menghujat Musa. Mereka bisa saja menyalahkan Musa, karena telah memimpin mereka keluar dari tanah Mesir. Ada juga yang mengancam untuk membunuh Musa. Karena itu, Musa di ayat 15 berkata, “Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.”
Orang-orang Israel mulai berani mengancam Musa secara fisik. Alkitab sendiri berkata bahwa Musa adalah seorang pemimpin yang paling lemah lembut. Tetapi, Musa juga manusia. Ketika ia menghadapi orang yang selalu bersungut-sungut, Musa merasa ingin menyerah. Bahkan sampai Musa menyatakan semua keluhannya itu kepada Tuhan.
Musa tahu bahwa orang Israel ini dalam kondisi yang kacau. Di ayat 12, Musa bertanya kepada Tuhan dengan sindiran, “Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?” Musa melihat orang Israel seperti anak-anak kecil. Orang-orang yang bersungut-sungut memang seperti anak kecil, yang tidak mau tahu kondisi dan keadaan, tetapi tetap menuntut sesuai kemauan mereka.
Sepertinya Musa sudah tidak sabar dengan bangsa Israel, sehingga ia mulai menanggapi sungut-sungut orang Israel itu dengan cara yang salah. Musa menyerah dan meminta supaya Tuhan mengakhiri hidupnya. Orang yang paling lemah lembut pun memiliki batas kesabaran. Musa bukan orang yang sempurna. Tetapi jika kita berada di posisi Musa, mungkin respon dan tindakan kita akan lebih buruk dari Musa. Ada banyak pemimpin rohani, hari-hari ini, mereka tidak bisa menghadapi jemaat dengan sabar.
Tidak semua jemaat memiliki kedewasaan rohani. Ada juga yang seperti anak kecil dan suka bersungut-sungut. Jika seorang pemimpin rohani berada dalam pengajaran yang benar, maka kita jangan sampai menyusahkannya. Jika pemimpin rohani itu mengajarkan hal yang tidak benar, barulah kita memberi peringatan kepadanya. Seorang pemimpin rohani juga bukan seorang yang sempurna. Ia juga memiliki kelemahan dan terus berjuang untuk tetap kuat, di tengah segala situasi dan kondisi.
Views: 23