Tantangan Iman  Bagi Abram (Jelajah PL 49)

Kejadian 12:1

Abram diperkenalkan sebagai anak Terah. Terah berusia tujuh puluh tahun dan memperanakkan Abram, Nahor dan Haran. Diperkirakan Haran sebagai anak sulung. Haran mati muda dan meninggalkan tiga anak, yaitu Lot, Milka dan Yiska. Milka akhirnya menikah dengan pamannya sendiri, yaitu Nahor. Yiska tidak diceritakan pernikahannya. Abram menikah dengan Sarai. Sarai adalah saudara tiri dari Abram, satu ayah beda ibu. Pada waktu itu memang masih diperbolehkan menikah dengan saudara dekat.

Abram pada waktu itu tinggal di Ur-Kasdim, daerah yang penduduknya melakukan penyembahan berhala. Di dalam Yosua 24:14-15, Yosua menantang bangsa Israel. Nenek moyang bangsa Israel, ketika masih berada di seberang sungai Efrat, yaitu Ur-Kasdim, menyembah kepada berhala-berhala. Kita bisa melihat bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menentang Tuhan. Padahal Terah hidupnya tidak terlalu jauh dengan zaman Nuh. Tetapi dalam waktu yang cukup singkat, manusia telah menjauh dari Tuhan.

Yang lebih mengherankan, ternyata Abram bisa tetap menyembah Tuhan yang benar, di tengah-tengah para penyembah berhala. Hari nurani Abram cukup peka sehingga dia lebih memilih untuk tetap menyembah Tuhan di tengah-tengah komunitas penentang Tuhan. Orang-orang yang menyembah berhala adalah orang yang bodoh, karena menyembah benda-benda mati, benda buatan manusia. Abram menyadari bahwa penyembahan berhala hanyalah kebohongan belaka. Abram lebih memilih untuk mengenal Tuhan yang benar, Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi.

Tuhan tidak perlu bantuan manusia. Tuhan tidak perlu pembelaan dari manusia. Justru manusia yang perlu bantuan dan pembelaan dari Tuhan. Tuhan yang seperti itu, akhirnya menyatakan diri kepada Abram. Tuhan datang kepada Abram dan memberi perintah untuk pergi dari negeri dan sanak saudaranya. Abram memang harus memisahkan diri dari sanak saudaranya. Abram harus membuang jauh-jauh, segala sesuatu yang berhubungan dengan berhala.

Hal yang sama, seharusnya terjadi pada diri kita. Jika kita ingin hidup kudus di hadapan Tuhan, maka kita harus membuang jauh-jauh semua pengaruh yang dapat menarik kita kepada hidup yang tidak kudus. Cara terbaik supaya tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif adalah menjauhinya. Ada banyak hal yang perlu kita hindari. Pada hakikatnya, sebagian besar hal di dunia ini memiliki pengaruh buruk bagi perkembangan kehidupan rohani manusia.

Abram diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan. Tentu perintah ini tidak mudah. Sudah banyak relasi dan sanak saudara di Ur-Kasdim. Apalagi keluarga Abram sepertinya menjadi keluarga terpandang di daerah itu. Tentu mereka memiliki banyak harta benda. Abram sendiri memiliki kekayaan, dalam bentuk ternak. Untuk meninggalkan tempat itu dan memindahkan kekayaan ke tempat lain, tentu perlu usaha yang cukup besar.

Ada banyak hal yang perlu ditinggal. Apalagi, daerah yang akan dituju belum jelas. Abram belum tahu tujuan dia pergi. Pasti tempat yang baru itu akan menjadi tempat asing baginya. Belum lagi perjalanan yang harus ditempuh, penuh dengan ketidakpastian. Abram mendapatkan tantangan iman yang sangat besar.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *