Perkembangan Peradaban Bangsa (Jelajah PL 48)

Kejadian 11:10-32

Ketika manusia itu dibedakan bahasanya menurut kaum keluarga mereka, maka mereka berpencar ke berbagai penjuru bumi. Mereka berusaha mencari tempat-tempat yang baik dan strategis menurut mereka. Ada yang pergi ke daerah yang dekat dengan air, sehingga mereka bisa membangun peradaban di sana. Ada juga yang menuju pegunungan, serta ada yang ke padang rumput. Semua berpencar sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

Mereka bergerak dengan cepat, membangun peradaban masing-masing. Tidak perlu waktu yang lama untuk membangun kehidupan mereka, karena fokus mereka sudah berbeda. Peradaban dan kebudayaan yang jauh dari Timur Tengah, biasanya peradabannya lebih lambat. Hal itu terjadi karena mereka jauh dari pusat peradaban manusia awal. Mereka mungkin perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

Saat ini kita mendapati ada berbagai macam suku bangsa di muka bumi ini. Mereka memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dan unik. Kita bisa melihat dari berbagai hal, misalnya: bahasa, makanan, pakaian, logat, kebiasaan-kebiasaan, dll. Karena mereka harus beradaptasi dengan lingkungan, maka terjadi perbedaan juga secara fisik, seperti: warna kulit, warna mata, bentuk rambut, bentuk muka, dll.

Selanjutnya kita diperhadapkan dengan silsilah keturunan Sem. Silsilah ini lebih lengkap, sampai kepada Abram. Hal ini sengaja dicatat dengan detail, karena Abram nanti akan menjadi tokoh yang akan diceritakan secara detail di dalam Alkitab. Dari silsilah itu, kita juga melihat bahwa usia mereka semakin pendek. Dari usia Nuh yang sembilan ratusan tahun, menjadi sekitar dua ratusan tahun di zaman Nahor. Kondisi dan iklim bumi yang berubah setelah air bah, menyebabkan manusia tidak bisa bertahan lama untuk hidup.

Selanjutnya, Alkitab memperkenalkan nama Terah, karena ia adalah bapak dari Abram. Abram memiliki dua orang saudara, yaitu Nahor dan Haran. Haran menikah di usia muda dan mati di usia muda juga. Akhirnya anak-anak Haran diasuh oleh paman mereka. Abram mengasuh Lot, sedangkan Milka dan Yiska diasuh oleh Nahor. Bahkan Nahor menikahi keponakannya sendiri, yaitu Milka. Pada saat itu, sistem genetika manusia masih belum rusak parah, sehingga masih bisa menikahi saudara dekat.

Pada waktu itu, menikah dengan sesama keluarga dianggap cara yang baik untuk mempertahankan tradisi dan kebudayaan kaum masing-masing. Selain itu, dipakai untuk mempertahankan kemurnian iman juga. Tetapi hal semacam itu mulai di Imamat 18. Karena kerusakan genetika manusia yang semakin parah, maka pernikahan dengan saudara dekat akan mengakibatkan keturunan lahir cacat.

Abram menikah dengan saudara dekatnya, yaitu Sarai (saudara tiri Abram). Ayah mereka sama, yaitu Terah, tetapi ibunya berbeda. Sarah mandul, tidak memiliki anak. Mereka keluar dari Ur-Kasdim, meninggalkan sanak saudaranya dan mulai kehidupan baru di tanah Kanaan. Mereka menetap di suatu tempat yang akhirnya diberi nama Haran oleh Terah. Umur Terah dua ratus lima tahun, lalu ia mati di Haran.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *