Menoleh ke Belakang (Jelajah PL 79)

Kejadian 19:17-29

Di dalam perjalanan selanjutnya, Lot terlihat senang untuk berkompromi. Karena hal itulah, maka ia betah menetap di Sodom. Orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, pasti tidak akan betah tinggal di Sodom, dengan kondisi yang sangat mengerikan dan penuh dengan kejahatan serta kekejian itu. Lot menetap di Sodom karena tertarik dengan kondisi ekonomi, yang bisa membuatnya hidup penuh dengan kelimpahan harta duniawi. Tetapi pada akhirnya, ia harus meninggalkan semua kekayaan yang telah diperolehnya itu dengan berat hati.

Setelah Lot keluar dari kota Sodom, Tuhan menyuruh Lot untuk pergi ke gunung, tetapi Lot tidak mau. Lot justru meminta izin bisa pergi ke kota lain. Lot mungkin berpikir, jika ia melarikan diri ke gunung, ia tidak akan bisa mencari kekayaan lebih mudah seperti di Sodom. Karena itu, ia memilih untuk pergi ke kota kecil yang bernama Zoar. Awalnya Zoar juga mau dimusnahkan oleh Tuhan. Tetapi Lot meminta agar Zoar tidak dimusnahkan, sehingga ia bisa lari ke sana. Tuhan akhirnya mengizinkan Lot pergi ke kota Zoar itu. Dalam kisah selanjutnya nanti kita akan bisa melihat bahwa hal itu tidak berguna bagi Lot.

Terhadap kompromi itu, Tuhan tetap memberi kesempatan kepada Lot dan mengabulkan permintaannya, yaitu memilih melarikan diri ke kota Zoar. Kota kecil itu tidak jadi ditunggangbalikkan oleh Tuhan. Akhirnya Lot berlari ke kota itu. Pagi hari, setelah matahari terbit menyinari bumi, Lot dan keluarganya sudah tiba di Zoar.

Setelah itu, Tuhan menurunkan hujan belerang dan api ke atas Sodom dan Gomora. Dicatat bahwa hujan itu berasal dari Tuhan, dari langit. Saat turun hujan belerang dan api itu, maka kota-kota dan lembah Yordan itu ditunggangbalikkan oleh Tuhan. Semua penduduk yang ada di kota itu, semua makhluk beserta semua tumbuhan, dimusnahkan oleh Tuhan. Kota yang kejam dan keji itu mendapatkan malapetaka yang setimpal dengan perbuatan mereka.

Pada saat itu Abraham mengetahui dan melihat ke arah Sodom dan Gomora. Pagi itu, Abraham melihat asap dari bumi membubung ke atas, seperti asap dari dapur peleburan. Abraham menyadari bahwa ternyata tidak ada sepuluh orang benar di kota itu. Karena itulah Tuhan menghancurkan kota tersebut. Meskipun demikian, Tuhan tetap menyelamatkan Lot, dengan alasan bahwa Ia mengingat pada Abraham.

Abraham yang telah berdoa syafaat bagi Lot, telah membuat Lot diselamatkan dari malapetaka itu. Seharusnya hal ini membuat kita semakin bersemangat untuk berdoa syafaat, berdoa bagi orang-orang yang perlu dan mau kita doakan. Banyak hal bisa berubah, karena doa kita yang didengar oleh Tuhan. Banyak orang yang bisa diselamatkan karena doa.

Ada catatan yang cukup menyedihkan tentang istri Lot. Pada saat berjalan mengikuti Lot, ternyata istri Lot menoleh ke belakang. Pada saat itu, ia menjadi tiang garam. Istilah menoleh ke belakang ini memiliki pengertian bahwa ia berlambat-lambat, melihat terus ke belakang. Mungkin istri Lot sempat mau berjalan kembali ke kota Sodom. Ia sedang tidak bersama suaminya, tetapi mengikuti suaminya dari belakang. Di dalam Lukas 17:32-33 dikatakan, “Ingatlah akan istri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *