Kasih Karunia Untuk Nuh (Jelajah PL 30)

Kejadian 6:8-13

Dari semua hal yang buruk dan negatif di masa awal dunia ini, masih ada hal yang positif walaupun sangat kecil. Masih ada Nuh yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Jika tidak ada kasih karunia, maka semua akan buruk. Kasih karunia ini yang berdampak pada keselamatan. Karena kasih karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, maka masih ada pengharapan keselamatan bagi manusia. Nuh mendapat kasih karunia karena ia adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya.

Nuh mendapat atau menemukan kasih karunia, karena ia aktif. Nuh bukan orang yang pasif. Nuh memang mencari kasih karunia itu. Tuhan telah menyediakan kasih karunia dan Nuh menanggapinya dengan positif. Tuhan memberi kasih karunia, tetapi manusia harus bertanggungjawab untuk percaya kepada Tuhan. Sampai hari ini Tuhan tetap memberi kasih karunia itu, tetapi kepada orang-orang yang mau bertanggungjawab, yaitu percaya penuh kepada-Nya.

Nuh orang berdosa, sama seperti kita dan juga orang-orang sezamannya. Yang membedakan Nuh dengan orang-orang sezamannya adalah iman. Ia mencari kasih karunia Tuhan, menemukan dan hidup bergaul dengan Tuhan. Tuhan yang memberi kesaksian bahwa Nuh adalah orang yang tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Nuh menjadi orang yang spesial, karena hidupnya berkenan kepada Tuhan.

Nuh memiliki tiga orang anak laki-laki, yaitu: Sem, Ham dan Yafet. Nuh mendapatkan anak setelah ia berumur lima ratus tahun. Ada beberapa kemungkinan hal ini bisa terjadi. Nuh sepertinya terlambat menikah. Mungkin karena pada waktu itu, perempuan yang cantik-cantik lebih memilih untuk menikah atau bersetubuh dengan Iblis. Bisa ditafsirkan bahwa banyak perempuan yang waktu itu tidak memiliki moral yang baik, sehingga Nuh kesulitan untuk mendapatkan pendamping yang sepadan dengan dia.

Kondisi di zaman Nuh tidak jauh berbeda di zaman sekarang. Baik laki-laki maupun perempuan, tingkat moralitasnya semakin rendah. Tidak banyak orang yang mempertahankan moralitas tinggi. Orang-orang yang hidup berkenan kepada Tuhan, semakin sulit mendapatkan pasangan yang sepadan dan seimbang, sesuai dengan kehendak Tuhan. Sem, Ham dan Yafet ini bukan anak kembar. Bahkan urutan nama pun tidak mencerminkan urutan usia mereka.

Dijelaskan dan dirangkum kembali di ayat 10 bahwa bumi sudah rusak di hadapan Tuhan. Bumi sudah dipenuhi dengan kekerasan. Semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Tidak ada yang mau hidup untuk Tuhan. Manusia tidak mempedulikan Tuhan. Manusia memiliki standar kebenaran, perilaku dan moralitas masing-masing.

Dengan kondisi yang seperti itu, Tuhan menyampaikan kepada Nuh bahwa Ia telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk. Hukuman Tuhan ini dilakukan semata-mata karena manusia tidak bisa lagi bertobat. Sudah banyak hal telah dilakukan oleh Tuhan. Tuhan juga sudah menyatakan kesabaran-Nya. Tetapi, manusia yang sudah rusak itu memang benar-benar bebal, tidak mau lagi mengikuti firman Tuhan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *