Hidup Tidak Bercela (Jelajah PL 66)

Kejadian 17:1-4

Di pasal ini, Abram berusia sembilan puluh sembilan tahun. Sedangkan pada saat Ismael lahir, Abram berumur delapan puluh enam tahun (16:16). Selang satu ayat, Abram sudah menjalani hidup selama tiga belas tahun. Tidak diceritakan tentang kehidupan Abram selama tiga belas tahun itu. Sepertinya Abram semakin belajar dalam iman dan belajar untuk mengasihi Ismael, anaknya yang lahir dari seorang hamba perempuan dari Mesir. Bisa saja pada waktu itu Abram berpikir bahwa Ismael yang akan menjadi penerusnya serta mewarisi semua kekayaannya.

Pada usia sembilan puluh sembilan tahun, Tuhan kembali menjumpai Abram dan menampakkan diri kepadanya. Tuhan datang kembali untuk menegaskan janji-Nya kepada Abram, yang sudah pernah disampaikan sebelumnya. Secara akal manusia, Abram pada waktu itu sudah tidak bisa memiliki keturunan lagi. Di dalam Ibrani 11:11 dikatakan, “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberi janji itu setia.”

Di ayat selanjutnya (12) dijelaskan, “Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.” Tuhan menampakkan Diri dan memperkenalkan nama-Nya “El-Shaddai” yang artinya Tuhan Yang Mahakuasa. Tuhan akan memberikan sesuatu yang bagi manusia, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Tetapi karena kemahakuasaan Tuhan, maka yang mustahil itu pun akhirnya terjadi.

Tuhan ingin memastikan bahwa Abram adalah orang yang tepat untuk menerima janji Tuhan ini. Karena itu Tuhan berkata kepada Abram: “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” Di dalam Kejadian 6:10, Nuh disebut sebagai orang benar dan tidak tercela. Demikian juga dengan Abram, ia dituntut oleh Tuhan untuk hidup tidak tercela. Hidup tidak bercela bukan berarti tanpa dosa. Tidak ada seorang pun yang tidak berdosa. Hidup yang tidak bercela adalah hidup yang dipimpin oleh iman.

Orang beriman akan berusaha untuk memisahkan diri dengan hal-hal yang jahat dan menentang Tuhan. Hidup beriman artinya ia sedang menuju pada karakter dan sifat yang kudus, sehingga ia tidak tertarik untuk melakukan dosa. Ia tidak tertarik untuk melawan atau menentang Tuhan. Abram dalam tahap seperti itu, sehingga ia tidak mau hidup bercampur dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Ia sudah mengalami beberapa masalah karena kompromi dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Meskipun demikian, sebagai manusia, Abram tetap memiliki potensi untuk jatuh dalam dosa.

Tuhan membuat perjanjian dengan Abram. Tuhan akan membuat Abram memiliki keturunan yang sangat banyak. Mendengar janji Tuhan itu, Abram sujud kepada Tuhan. Tuhan kemudian berfirman bahwa Abram akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Ismael akan beranak cucu dan bertambah banyak. Demikian juga dengan Ishak yang akan beranak cucu sangat banyak. Setelah Sarai meninggal, Abram juga memiliki anak dari istri Abram yang lain.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *