Cawan Keempat Ditumpahkan (Jelajah PB 1110)

Wahyu 16:7-8

Kemudian Yohanes mendengar mezbah itu berkata, “Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu.” Mezbah ini bisa berkata, sebagai lambang bahwa di situ telah banyak jiwa yang berkorban untuk kebenaran. Orang-orang kudus yang pernah menderita dan darahnya tertumpah serta mengalami penganiayaan sampai mati, mereka akhirnya merasakan keadilan Tuhan. Dalam kisah sejarah, ada banyak orang Kristen yang dipaksa untuk menyangkal Tuhan. Tetapi mereka tidak mau menyangkal dan tetap setia, meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Selanjutnya malaikat keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari. Kepada malaikat itu diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Akhirnya manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Tuhan yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu. Tetapi mereka tetap tidak mau bertobat, tidak mau memuliakan Tuhan.

Malapetaka ini sudah dinubuatkan sebelumnya melalui nabi Yoel. Di dalam Yoel 2:30-31 dikatakan, “Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu.” Nubuatan ini dijelaskan kembali oleh Petrus di dalam Kisah Para Rasul 2:19-20.

Apa yang dinubuatkan nabi Yoel hanya terjadi sebagian di dalam Kisah Para Rasul. Hal itu terjadi karena Yesus Kristus ditolak oleh bangsa Yahudi sebagai Mesias. Jika Yesus Kristus pada waktu itu disambut oleh bangsa Yahudi, maka semua nubuatan nabi Yoel akan digenapi. Bangsa Yahudi akan segera masuk pada masa penganiayaan besar, karena mereka akan disebut sebagai bangsa pemberontak, telah memberontak kepada kekaisaran Romawi dan telah menjadikan Yesus sebagai Raja mereka.

Tetapi karena Yesus Kristus ditolak, maka pendirian kerajaan Daud yang dijanjikan ditunda. Di dalam Roma 11:25 dijelaskan bahwa penundaan itu akan dilaksanakan sampai bangsa-bangsa non-Yahudi masuk penuh. Kita tidak tahu sampai kapan kepenuhan itu terjadi. Yang pasti, waktu itu akan semakin dekat. 

Matahari seperti gumpalan api yang selalu terbakar dan meledak-ledak selama ribuan tahun, dan sampai sekarang tetap bereaksi seperti itu. Reaksi yang seperti itu tentu memerlukan bahan bakar yang banyak, tetapi sampai sekarang tepat menyala dan tidak ada habisnya. Panasnya pun tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Jika panasnya berubah-ubah, maka tidak ada makhluk yang bisa hidup di dunia ini dengan nyaman.

Jika Tuhan ingin menghanguskan bumi ini, maka Tuhan bisa saja meningkatkan panas matahari itu, sehingga segala yang di bumi bisa terbakar. Atau bisa saja Tuhan menurunkan suhu matahari itu, sehingga terjadi kedinginan yang dahsyat di bumi. 

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *